Salam Konservasi,


Ini adalah blog dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai.
Blog ini merupakan sarana informasi tentang Taman Nasional Gunung Ciremai, baik dari sisi perlindungan, pengawetan maupun pemanfaatan.
Selain itu kami harapkan blog ini dapat kita jadikan sarana diskusi maupun rembug saran bagi pihak-pihak yang peduli akan keberadaan Taman Nasional Gunung Ciremai.



28 Oktober, 2010

KETERSEDIAAN AIR MULAI BERKURANG*)


Air merupaka zat atau materi yang penting bagi semua bentuk kehidupan di bumi. Saat ini, kondisi air di bumi semakin lama semakin menipis akibat penggunaan lahan secara permanen oleh manusia yang kian hari jumlahnya kian bertambah. Secara makro ketersediaan air di Indonesia sangat berlimpah, tetapi keberlimpahan tersebut keberadaannya tidak merata secara ruang dan waktu. Secara ruang karena bentang Indonesia yang sangat luas, secara waktu karena adanya musim yang berbeda setiap tahunnya.

Pulau Jawa mempunyai ketersediaan air yang paling kecil dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya yaitu hanya 1.600 m3/kapita/tahun, hal ini disebabkan perbandingan terbalik antara banyaknya manusia yang menggantungkan hidupnya yaitu 65% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia dengan luasnya yang hanya mencapai 7% dari daratan Indonesia dan hanya memiliki 4,5% dari seluruh potensi air tawar Indonesia.

Skala lebih kecilnya yaitu Propinsi Jawa Barat yang memiliki luas 2% dari daratan Indonesia, dengan 2% dari seluruh potensi air tawar Indonesia dimana jumlah masyarakat yang bergantung hidupnya sebanyak 20% dari seluruh penduduk Indonesia. Pada musim penghujan potensi air Jawa Barat mencapai 80 milyar m3/tahun dengan kondisi air berlebihan akibat kawasan lindung yang telah kritis tidak mampu mengendalikan air, yang kemudian menyebabkan terjadilah bencana banjir dan longsor. Ketika musim kemarau, potensi air Jawa Barat hanya 8 milyar m3/tahun, kualitasnyapun sangat buruk karena adanya pencemaran. Alhasil pada musim hujan selalu terjadi bencana banjir dan longsor, sedangkan musim kemarau selalu terjadi kekeringan.

Lebih khusus lagi, masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang semakin lama semakin merasakan berkurangnya debit air dari dalam kawasan yang selama ini dimanfaatkan tanpa kontribusi langsung ke dalam kawasan TNGC. Hal ini ditunjukkan dengan adanya permohonan dari masyarakat untuk menambah pipa dari mata air di dalam kawasan TNGC dimana pemohon merupakan masyarakat desa yang berbatasan langsung dengan kawasan dan berada di daerah hulu. Apalagi untuk desa yang berada di bagian hilir, kondisi airnya lebih memprihatinkan dibandingkan dengan desa di bagian hulu.

Kondisi ini diakibatkan semakin luasnya lahan kritis di dalam kawasan TNGC yang berperan sebagai kawasan lindung akibat penggunaan kawasan yang tidak sesuai dengan fungsinya. Apabila kondisi ini terus dipertahankan, 5 atau 10 tahun lagi bukan Kab Cirebon yang bergantung kepada Kab Kuningan namun Kab Kuningan yang akan bergantung kepada Kab Cirebon untuk dimanfaatkan air lautnya karena habisnya ketersediaan air dari dalam kawasan TNGC. Dengan adanya fakta ini, diharapkan masyarakat yang masih melakukan aktifitas pemanfaatan lahan di dalam kawasan mulai menyadari bahwa tindakan yang dilakukan tersebut sangat merugikan banyak orang dan kami akan terus mendampingi dan memfasilitasi masyarakat sekitar kawasan TNGC yang memang benar-benar sangat membutuhkan.

*)Nisa Syachera F, S. Hut
Penyuluh Kehutanan

23 September, 2010

TNGC IKUT SERTA PAMERAN PEMBANGUNAN KAB KUNINGAN*)



Tanggal 1 September merupakan hari bersejarah bagi Kab Kuningan karena merupakan hari jadi Kab Kuningan. Saat ini Kab Kuningan telah beranjak pada usia 512, dalam rangka memperingati hari jadi Kab Kuningan tersebut maka Pemerintah Daerah mengadakan Pameran Pembangunan. Pameran pembangunan dilaksanakan di depan terminal Kertawinangun dan diikuti lebih dari 30 instansi baik dari lembaga BUMN, BUMD, pendidikan, ormas dan pengusaha home industri. Salah satunya adalah Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Pameran pembangunan dalam rangka hari jadi Kab Kuningan telah 2 (dua) kali diikuti oleh Balai TNGC, yang sebelumnya diadakan pada tahun 2009. Seperti halnya pada tahun 2009, pada tahun 2010 Balai TNGC ikut serta dalam kegiatan pameran pembangunan bersama instansi lainnya yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab Kuningan, Perum Perhutani dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup daerah (BPLHD) Kab Kuningan.
Pameran pembangunan dibuka secara resmi oleh Bupati Kab Kuningan pada tanggal 1 September 2010. Pada pembukaan pameran pembangunan, Bupati Kuningan berkesempatan untuk mengunjungi setiap stand yang ada termasuk stand Balai TNGC. Pelibatan Balai TNGC dalam pameran pembangunan Kab Kuningan merupakan apresiasi kepada Kab Kuningan atas prestasi yang diraih dalam bidang lingkungan dan dukungan yang diberikan kepada Balai TNGC selaku pengelola kawasan konservasi di Kab Kuningan. Selain itu, tema yang diangkat pada pameran pembangunan “Dengan semangat hari jadi ke-512 Kuningan kita tingkatkan penggunaan sumberdaya lokal menuju kuningan yang lebih sejahtera” selaras dengan visi Balai TNGC ‘Terwujudnya kelestarian kawasan TNGC sebagai sumber air utama untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakat‘.
Pelaksanaan pameran pembangunan berlangsung selama 6 (enam) hari sampai tanggal 6 September 2010. Selama 6 hari, jumlah pengunjung yang datang ke stand Balai TNGC sebanyak 40-50 pengunjung/hari yang terdiri dari orangtua, anak-anak dan pelajar, yang didominasi oleh pelajar. Dengan ikut sertanya Balai TNGC pada pameran pembangunan Kab Kuningan, diharapkan informasi mengenai kawasan TNGC dan kegiatan yang telah dilakukan dapat tersampaikan kepada masyarakat luas khususnya para pelajar sebagai generasi penerus dalam rangka pemberian pendidikan konservasi dan lingkungan sehingga prestasi bidang lingkungan yang diraih Kab Kuningan sebagai Kab Konservasi dapat dipertahankan dan ditingkatkan.

*)Oleh : Nana Suhendri, S. Sos
Penata Humas dan Kerjasama

22 September, 2010

PEMBENTUKAN KADER KONSERVASI TINGKAT PEMULA ANGKATAN II LINGKUP BALAI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI*)


Kepedulian Balai Taman Nasional Gunung Ciremai akan generasi muda di Kabupaten Kuningan salah satunya diwujudkan melalui kerjasama dengan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Kuningan untuk mendidik remaja pada anak usia sekolah setingkat SMA/Sederajat yang aktif dalam Kegiatan Pramuka untuk menjadi KADER KONSERVASI TINGKAT PEMULA ANGKATAN II Lingkup Balai TNGC. Kegiatan ini diikuti oleh 30 (tiga puluh) orang peserta dari tanggal 28 s/d.29 Agustus 2010 di Aula Hotel Popuci (Linggasana) dan Kawasan Bumi Perkemahan Cibeureum (Resort Cilimus, SPTN Wil. I Kuningan)

Adapun tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ini yaitu agar generasi muda memiliki kepedulian dan rasa empati terhadap kondisi hutan dan lingkungan yang berada di Kabupaten Kuningan, khususnya terhadap keberadaan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, dengan harapan mereka mampu menjadi kader- kader untuk menyampaikan pesan-pesan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAH&E) kepada masyarakat di Kab. Kuningan yang notabene sebagai Kabupaten Konservasi, khususnya bagi kalangan teman- teman mereka di sekolahnya. Dengan telah terbentuknya 30 (tiga puluh) orang Kader Konservasi Tingkat Pemula Angkatan II Tahun 2010, diharapkan muncul generasi muda yang lebih aktif dan peduli terhadap hutan dan lingkungannya, serta menjadi pionir-pionir penggerak penyebarluasan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat luas.

Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula Angkatan II dilaksanakan melalui Pendidikan Konservasi sebanyak 25 JPL (Jam Pelajaran), dengan materi-materi sebagai berikut : Kehutanan Umum; Dasar-Dasar Kepemimpinan; Dasar-Dasar Ekologi; Flora dan Fauna Indonesia; Dasar-Dasar Konservasi; Pembinaan Cinta Alam; Wisata Alam; PPPK dan SAR (Pengenalan Pemetaan); Praktek Lapangan, dan Diskusi Interaktif. Dalam materi praktek, para peserta diajak untuk lebih memahami dan merasakan langsung kondisi hutan di lapangan melalui kegiatan analisis vegetasi dan pengenalan keanekaragaman jenis sumberdaya alam hayati yang di kawasan TNGC. Selain itu, para peserta juga mendapatkan materi aplikatif dalam bidang pemetaan, melalui pengenalan SIG (Sistem Informasi Geografis) dan penggunaan perangkat teknologi GPS (Global Positioning System) yang cukup penting dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi.

Pada upacara penutupan, Kepala Balai telah mengukuhkan 30 (tiga puluh) orang peserta menjadi Kader Konservasi Tingkat Pemula Angkatan II melalui Surat Keputusan Kepala Balai Nomor : SK. 200/BTNGC/2010 tanggal 30 Agustus 2010 yang nantinya akan diusulkan kepada Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam, Kementerian Kehutanan untuk mendapatkan Penomoran Anggota Kader Konservasi yang teregistrasi secara nasional. Adapun output yang dihasilkan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah terbentuknya susunan kepengurusan Kader Konservasi Tingkat Pemula Angkatan II beserta konsep program kerja yang akan dilaksanakan setahun ke depan. Diakhir acara, para peserta menyatakan sangat antusias dan berharap kegiatan ini dapat terus berlangsung dengan disertai upaya monitoring dan pembinaan dari instansi terkait.

*)Oleh : Apo
Polisi Kehutanan Pelaksana Pemula TNGC

31 Agustus, 2010

MASYARAKAT SEMAKIN SADAR AKAN PENTINGNYA KAWASAN TNGC*)



Upaya pemberian pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya kelestarian kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) semakin direspon oleh masyarakat, hal ini ditandai dengan adanya permintaan aparat Pemerintah Desa untuk bekerjasama dengan Balai TNGC dalam pemanfaatan jasa lingkungan air. Air merupakan produk nyata yang dihasilkan kawasan TNGC yang digunakan seluruhnya untuk hajat hidup orang banyak, kebutuhan akan air semakin lama semakin meningkat dengan semakin banyaknya jumlah penduduk. Diantara pemerintah desa yang mengajukan kerjasama dalam pemanfaatan air diantaranya desa di sekitar kawasan yaitu Desa Kaduela, Gunung Sirah, Padabeunghar, Randobawagirang, dan Seda dan juga ada desa yang bukan desa penyangga kawasan TNGC yaitu Desa Kertawinangun. Hal tersebut didasari akan keperluan dan kebutuhan air yang sangat penting bagi kehidupan.
Mekanisme kerjasama dalam pemanfaatan jasa lingkungan air dari dalam kawasan taman nasional belum diatur oleh peraturan perundangan kehutanan, namun hal yang paling mendasar adalah bagaimana masyarakat ikut membangun hutan di kawasan TNGC baik masyarakat desa bagian hulu maupun hilir agar ketersediaan air tetap terjaga. Salah satu caranya dengan penanaman pepohonan khususnya pada areal mata air sehingga air yang terserap semakin besar.
Selain dirasakan masyarakat Kabupaten Kuningan, kebutuhan tinggi akan air juga dirasakan masyarakat Kabupaten Cirebon. Berdasarkan data yang didapat tahun 2010, debit air di PDAM Paniis sudah semakin berkurang dan penggunanya semakin banyak. Kebutuhan yang semakin meningkat seharusnya juga diimbangi dengan pembangunan hutan di kawasan TNGC yang saat ini masih mengalami degradasi. Apabila kondisi ini terus dibiarkan maka masyarakat akan kesulitan mendapatkan air bersih khususnya musim kemarau. Hal ini juga diakui masyarakat Kab Cirebon yang mengatakan bahwa kondisi air semakin kurang pada musim kemarau. Hasil penelitian mahasiswa IPB menguatkan apa yang telah disampaikan bahwa keseimbangan air antara ketersediaan dan kebutuhan air di Pulau Jawa menunjukan, kebutuhan air dapat terpenuhi pada musim hujan, sedangkan memasuki musim kemarau awal, ada beberapa wilayah sungai yang mengalami defisit, dan pada pertengahan musim kemarau semua wilayah sungai di Pulau Jawa mengalami defisit. Berdasarkan penelitian tersebut jelas terlihat ketersediaan air yang semakin berkurang khususnya air bersih.
Melihat kondisi yang terjadi, Balai TNGC memberikan perhatian penuh akan pemanfaatan jasa lingkungan air dan pengelolaannya, seperti yang tercantum pada visi Balai TNGC yaitu “Terwujudnya kelestarian kawasan TNGC sebagai sumber air utama untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakat”. Air juga merupakan obyek utama pada beberapa obyek wisata alam di kawasan TNGC, baik dalam bentuk air terjun maupun danau/talaga. Untuk itu kami menyampaikan kepada masyarakat secara sadar ikut serta dalam upaya reforestrasi atau pengembalian kawasan hutan di kawasan TNGC seperti sedia kala sehingga air yang merupakan kebutuhan masyarakat dapat tercukupi.

*)Oleh : Oman Dede Permana
(Polisi Kehutanan TNGC)

24 Agustus, 2010

CEGAH KEBAKARAN DENGAN MPA DAN SEKAT BAKAR*)


Menindaklanjuti upaya pencegahan kebakaran hutan yang dilakukan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) beberapa waktu yang lalu yaitu penyuluhan pengendalian kebakaran hutan yang dilaksanakan pada 5 (lima) kecamatan yaitu Kecamatan Pasawahan, Cigugur, Darma, Cikijing dan Bantaragung, selanjutnya dilaksanakan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pembuatan sekat bakar.
MPA adalah masyarakat yang dilatih untuk ikut serta membantu petugas secara sukarela dalam kegiatan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan. Kegiatan Pembentukan MPA dilaksanakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 5 s/d 6 Agustus 2010 bertempat di Aula Taman Wisata Alam (TWA) Linggarjati Kabupaten Kuningan dan diikuti oleh peserta sebanyak 40 (emapt puluh) orang, yang berasal dari Kab.Kuningan (Kec.Pasawahan, Kec.Cilimus, Kec.Mandirancan, Kec.Darma, Kec. Cigugur), dan Kab.Majalengka (Kec. Sindangwangi, Kec. Argapura, Kec.Rajagaluh). Tujuan dibentuknya kelompok MPA adalah untuk mendorong masyarakat membangun dirinya sendiri mengembangkan kemampuan dalam mengamankan wilayahnya sendiri dari bahaya kebakaran dengan menitik beratkan pada pencegahan terjadinya kebakaran kawasan TNGC.
Dalam materi yang disampaikan pada kegiatan pembentukan MPA, Kepala Balai TNGC Ir Kurung MM menegaskan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan di kawasan TNGC merupakan tanggung jawab semua pihak baik Balai TNGC, Pemerintah daerah maupun masyarakat dan berkeinginan dengan adanya pembentukan MPA ini, kelestarian kawasan TNGC semakin membaik karena petugas TNGC akan dibantu oleh masyarakat dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. Pemateri lainnya yaitu Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab Kuningan dan Widyaswara Balai Diklat Kehutanan Kadipaten. Selain materi yang diterima di dalam kelas, materi praktek juga diberikan agar teori yang telah disampaikan dapat diaplikasikan dengan baik. Adapun kegiatan praktek dilakukan di lokasi yang sama yaitu TWA Linggarjati.
Setelah MPA dibentuk, tugas pertama yang dilakukan kelompok adalah pembuatan sekat bakar yang dilaksanakan beberapa hari berikutnya yaitu pada tanggal 9 s.d 10 Agustus 2010 di Desa Setianegara, Batu Luhur dan Bintangot. Sekat bakar yang dibuat dengan panjang masing-masing ± 100-200 meter. Pembuatan sekat bakar dilakukan dengan cara yang paling umum dalam pencegahan kebakaran yaitu menggunakan cangkul, sekop, garu, garpu tanah dan kapak. Pembuatan sekat bakar dilakukan dengan cara pembersihan rumput, semak dan pohon pada areal yang dianggap rawan yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran api serta mengurangi bahan bakar.
Selain mewujudkan pelaksanaan upaya pencegahan, kegiatan pembentukan MPA dan pembuatan sekat bakar merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat karena melibatkan masyarakat yang berada di sekitar kawasan TNGC.

*)Oleh : Cepi Arifiana
Polisi Kehutanan TNGC