Salam Konservasi,


Ini adalah blog dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai.
Blog ini merupakan sarana informasi tentang Taman Nasional Gunung Ciremai, baik dari sisi perlindungan, pengawetan maupun pemanfaatan.
Selain itu kami harapkan blog ini dapat kita jadikan sarana diskusi maupun rembug saran bagi pihak-pihak yang peduli akan keberadaan Taman Nasional Gunung Ciremai.



Kondisi Umum kawasan TNGC

Letak dan Luas Wilayah 
Secara geografis, TNGC terletak pada koordinat 1080 28’ 0” BT – 1080 21’ 35” BT dan 60 50’ 25” LS – 60 58’ 26” LS. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, kawasan TNGC termasuk ke dalam dua kabupaten yaitu Kabupaten Kuningan (bagian timur) dan Kabupaten Majalengka (bagian barat) dengan luas ± 15.518,23 Ha

Topografi
Kawasan TNGC memiliki toporafi yang bergelombang, berbukit, dan bergunung membentuk kerucut dengan ketinggian mencapai 3078 mdpl. 

Iklim 
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan TNGC termasuk ke dalam tipe iklim B dan C dengan curah hujan 2000-4000 mm/tahun dan temperature udara 180 – 220

Hidrologi
Kawasan Gunung Ciremai kaya dengan sumber daya air berupa sungai dan mata air. Sungai-sungai yang bersumber dari Gunung Ciremai berjumlah ± 43 buah dan 156 titik mata air, dimana 147 titik mata air terus menerus mengalirkan air sepanjang tahun dengan debit rata-rata 50 – 2000 liter/detik serta kualitas airnya memenuhi standar criteria kualitas air minum.

Vulkanologi
            Gunung Ciremai termasuk gunung api kuarter aktif, tipe A (yakni, gunung api magmatic yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk kerucut. Gunung ini merupakan gunung api soliter, yang dipisahkan oleh zona sesar Cilacap – kuningan dari kelompok gunung api Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha, hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada zona bandung. Ciremai merupakan gunung api generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunung api Plistosen yang terletak di sebelah G. Ciremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan tersier. Vulkanisme generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk kaldera Gegerhalang. Vulkanisma generasi ketiga yaitu pada kala Holosen berupa Gunung Ciremai yang tumbuh di sisi utara kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi sekitar 7000 tahun yang lalu.

Kondisi Biologis
Tipe ekosistem hutan yang berada di kawasan TNGC secara umum merupakan tipe hutan dataran rendah (2- 1000 mdpl), hutan hujan pegunungan (1000 – 2400 mdpl), dan hutan pegunungan atas (> 2400 mdpl). Di dalam tipe ekosistem tersebut terdapat keanekaragaman hayati yang tinggi berupa keanekaragaman flora, fauna, dan potensi wisata. Flora yang ditemukan di kawasan tersebut berdasarkan hasil eksplorasi sebanyak 57 jenis, diantaranya adalah Edelweis, Pasang, Jamuju, Harendong, Kiteja, Kipare, Kicalungcung, Hamirung, Kijagong, Kiceuhay, Pelending, Cereme, Kiucing, Kileho, Kinugrah, Cerem, Kibeusi, Kisieur, Walen, Nangsi, Kiampet, Kemuning, Ipis Kulit, Kigawulan, Huru, Kalimarot, Kisalam, Totongoan, Talingkup, Kendung, Pendung, Kiamis, Kitaji, Kipait, Ramo Giling, Kihuut, Kisareni, Tangogo, Hamperu Badak, Hamerang, Beunying, Kawoyang, Kareumbi, Masawa, Kikacapi, Kikacang, Baros, Songgom, Kijeruk, Gintung, Kisireum, dan Kijengkol.
 Jenis fauna yang ditemukan di kawasan TNGC cukup beragam antara lain terdiri dari jenis burung, mamalia, dan reptil. Macan Tutul (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus munjak),  Kera Ekor Panjang (Macaca Fascicularis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Lutung Jawa(Trachypithecus auratus), Surili (Presbytis comata), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), walik (Ptilinopuscinctus), dan Anis (Zoothera citrina).